Oleh: Bekti Noorhayati, S.Pd. Staf Badan Penjaminan Mutu UII
Keluarga merupakan salah satu amanah terbesar yang Allah SWT titipkan kepada manusia. Di dalam keluarga, seseorang tidak hanya menjalankan peran sebagai suami, istri, ayah, ibu, atau anak, tetapi juga belajar dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, akhlak, kasih sayang, tanggung jawab, serta ketakwaan.
Sering kali seseorang dikenal sebagai pribadi yang baik di tengah masyarakat. Ia ramah kepada tetangga, santun kepada teman, aktif mengikuti pengajian, dan rajin beribadah. Namun, kebaikan tersebut seharusnya tidak berhenti ketika seseorang berada di luar rumah. Justru rumah menjadi tempat pertama dan utama untuk membuktikan kualitas keimanan dan akhlaknya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Khairukum khairukum li ahlihi, wa ana khairukum li ahli.”
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Hadis tersebut mengajarkan bahwa ukuran kebaikan seorang Muslim tidak hanya terlihat dari bagaimana ia bersikap kepada orang lain, tetapi juga dari bagaimana keluarganya merasakan kehadiran dirinya.
Keluarga adalah Amanah
Allah SWT berfirman:
“Yaa ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahlikum naaraa.”
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang Muslim tidak berhenti pada keselamatan dirinya sendiri. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk membimbing keluarganya agar tetap berada di jalan Allah SWT.
Karena itu, menjadi orang tua bukan sekadar memenuhi kebutuhan anak. Menjadi suami bukan hanya tentang mencari nafkah. Menjadi istri bukan sekadar mengurus rumah tangga. Lebih dari itu, keluarga adalah tempat untuk saling menjaga, mendidik, menguatkan, dan mengajak kepada kebaikan.
Rumah adalah tempat pertama seorang anak mengenal Allah. Di sanalah anak belajar shalat, mengenal kejujuran, belajar menghormati orang lain, memahami tanggung jawab, dan melihat bagaimana ajaran agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mencari Rezeki untuk Keluarga adalah Bentuk Tanggung Jawab
Salah satu bentuk tanggung jawab kepada keluarga adalah memenuhi kebutuhan mereka dengan rezeki yang baik. Banyak orang tua bekerja keras dari pagi hingga malam demi memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya.
Namun, dalam mencari nafkah, Islam tidak hanya mengajarkan tentang banyaknya penghasilan. Islam juga mengajarkan tentang bagaimana penghasilan tersebut diperoleh.
Rezeki yang sedikit tetapi halal dan penuh keberkahan jauh lebih baik daripada penghasilan yang besar tetapi diperoleh melalui cara yang tidak dibenarkan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Yaa ayyuhannaasu kuluu mimmaa fil-ardhi halaalan thayyiban.”
“Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa seorang Muslim hendaknya memperhatikan kehalalan dan kebaikan dari apa yang ia konsumsi dan berikan kepada keluarganya.
Karena itu, mencari nafkah bukan hanya persoalan ekonomi. Ia juga merupakan bagian dari tanggung jawab dan ibadah apabila dilakukan dengan cara yang halal, jujur, dan tidak merugikan orang lain.
Seorang pedagang hendaknya tidak menipu pembelinya. Seorang pekerja hendaknya menjalankan amanah dengan baik. Seorang pengusaha hendaknya tidak mengambil keuntungan dengan cara yang zalim. Seorang pegawai hendaknya bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab.
Jangan sampai kita bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang baik kepada keluarga, tetapi sumber penghasilan yang diberikan justru berasal dari sesuatu yang tidak halal.
Rezeki Halal, Keluarga yang Tenang
Rezeki yang halal bukan hanya berkaitan dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Lebih jauh, ia juga berkaitan dengan keberkahan kehidupan keluarga.
Ketika seseorang membawa pulang penghasilan yang diperoleh dengan cara yang halal, ia tidak hanya membawa uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia juga membawa ketenangan karena tidak ada hak orang lain yang diambil, tidak ada kebohongan yang disembunyikan, dan tidak ada kezaliman yang dilakukan dalam proses mendapatkannya.
Oleh karena itu, jangan mengukur keberhasilan keluarga hanya dari rumah yang besar, kendaraan yang bagus, atau banyaknya harta yang dimiliki.
Keluarga yang berhasil adalah keluarga yang kebutuhan hidupnya dipenuhi dengan cara yang halal, hubungan antaranggota keluarganya dipenuhi kasih sayang, dan kehidupan sehari-harinya semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Wa min aayaatihii an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan litaskunuu ilaihaa wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmah.”
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan untukmu agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ketenangan dalam keluarga tidak selalu lahir dari banyaknya harta. Ketenangan lahir dari keberkahan, kasih sayang, saling menghargai, dan kesediaan untuk menjalankan tanggung jawab masing-masing dengan baik.
Jangan Hanya Memberikan Nafkah, tetapi Hadir untuk Keluarga
Di zaman sekarang, banyak orang bekerja keras demi keluarganya. Berangkat pagi, pulang malam, dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja.
Semua itu merupakan bentuk perjuangan yang patut dihargai. Namun, jangan sampai kesibukan mencari nafkah membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk hadir dalam kehidupan keluarganya.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari. Mereka juga membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan cerita mereka, memberikan perhatian, dan menjadi tempat untuk bertanya.
Istri tidak hanya membutuhkan nafkah, tetapi juga membutuhkan penghargaan, kasih sayang, dan pasangan yang mau mendengarkan.
Begitu pula orang tua yang telah lanjut usia. Mereka mungkin tidak lagi membutuhkan banyak hal secara materi, tetapi mereka membutuhkan perhatian, doa, dan kehadiran anak-anaknya.
Karena itu, keseimbangan antara mencari nafkah dan membangun hubungan keluarga perlu dijaga. Jangan sampai kita sibuk mencari sesuatu untuk keluarga, tetapi justru kehilangan keluarga itu sendiri.
Rasulullah SAW Tetap Memperhatikan Keluarga
Rasulullah SAW merupakan manusia yang memiliki kesibukan luar biasa. Beliau berdakwah, mengajarkan Al-Qur’an, membimbing umat, menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat, dan menjalankan berbagai tanggung jawab lainnya.
Namun, kesibukan tersebut tidak membuat beliau mengabaikan keluarganya.
Suatu ketika beberapa sahabat muda datang kepada Rasulullah SAW untuk belajar agama. Mereka tinggal bersama beliau selama dua puluh malam. Ketika Rasulullah SAW melihat mereka mulai merindukan keluarga, beliau bersabda:
“Irji’uu ilaa ahliikum fa’allimuuhum wa muruuhum.”
“Kembalilah kepada keluarga kalian. Ajarkanlah mereka dan bimbinglah mereka.” (HR. Bukhari)
Pesan ini menunjukkan bahwa ilmu agama tidak seharusnya berhenti di masjid atau majelis ilmu. Ilmu yang kita pelajari harus dibawa pulang dan diterapkan dalam keluarga.
Ketika kita belajar tentang shalat, keluarga harus menjadi tempat pertama kita mengamalkannya. Ketika kita belajar tentang kesabaran, keluarga harus menjadi tempat pertama kita menunjukkan kesabaran. Ketika kita belajar tentang kejujuran, keluarga harus menjadi tempat pertama kita mempraktikkannya.
Keteladanan Lebih Kuat daripada Nasihat
Pendidikan keluarga tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat. Anak-anak lebih mudah belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Orang tua mungkin meminta anaknya rajin shalat, tetapi apabila orang tua sendiri sering menunda shalat, anak akan melihat ketidaksesuaian tersebut.
Orang tua mungkin meminta anak berkata jujur, tetapi apabila anak melihat orang tuanya berbohong, pesan tentang kejujuran menjadi kehilangan kekuatannya.
Demikian pula dalam mencari rezeki. Anak perlu melihat bahwa orang tuanya bekerja dengan jujur, tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, tidak menipu, dan tetap berpegang pada prinsip halal meskipun ada kesempatan mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak benar.
Allah SWT berfirman:
“Yaa ayyuhalladziina aamanuu lima taquuluuna maa laa taf’aluun. Kabura maqtan ‘indallaahi an taquuluu maa laa taf’aluun.”
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)
Keteladanan orang tua dalam beribadah, berakhlak, bekerja, dan mencari rezeki halal merupakan pendidikan yang akan melekat dalam kehidupan anak-anak.
Membangun Keluarga dengan Saling Menolong dalam Kebaikan
Tidak ada keluarga yang sempurna. Setiap keluarga memiliki persoalan, perbedaan pendapat, dan ujian masing-masing.
Yang terpenting bukan bagaimana membuat keluarga terbebas dari masalah, tetapi bagaimana setiap anggota keluarga menghadapi masalah dengan cara yang baik.
Allah SWT berfirman:
“Wa ta’aawanuu ‘alal birri wat taqwaa.”
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat tersebut juga dapat menjadi prinsip dalam kehidupan rumah tangga.
Suami dan istri hendaknya saling membantu dalam kebaikan. Orang tua membimbing anak-anak dengan kasih sayang. Anak-anak berusaha berbakti kepada orang tua. Setiap anggota keluarga saling mengingatkan ketika ada yang melakukan kesalahan.
Begitu pula dalam urusan mencari nafkah. Suami dan istri hendaknya saling mendukung untuk mendapatkan penghasilan yang halal. Ketika penghasilan belum banyak, keluarga belajar bersyukur. Ketika mendapatkan kelapangan rezeki, keluarga belajar berbagi dan tidak berlebihan.
Dengan demikian, rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi menjadi tempat tumbuhnya ketakwaan.
Rezeki Bukan Hanya tentang Jumlah
Sering kali manusia merasa bahwa rezeki berarti semakin banyak uang yang dimiliki. Padahal rezeki memiliki makna yang jauh lebih luas.
Kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang rukun adalah rezeki. Anak-anak yang saleh adalah rezeki. Pekerjaan yang halal adalah rezeki. Waktu untuk berkumpul bersama keluarga adalah rezeki. Hati yang tenang juga merupakan rezeki.
Karena itu, jangan sampai seseorang mengejar rezeki yang lebih banyak dengan mengorbankan keberkahan.
Lebih baik memperoleh penghasilan yang cukup tetapi halal, daripada mendapatkan banyak harta tetapi harus mengorbankan kejujuran dan ketenangan hati.
Pada akhirnya, yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah bukan hanya berapa banyak harta yang kita kumpulkan, tetapi juga dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa harta tersebut digunakan.
Menjadikan Keluarga sebagai Jalan Menuju Surga
Allah SWT memberikan gambaran tentang keluarga orang-orang beriman yang dipertemukan dalam keimanan:
“Walladziina aamanuu wattaba’athum dzurriyyatuhum bi iimaanin alhaqnaa bihim dzurriyyatahum.”
“Dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucunya.” (QS. At-Tur: 21)
Allah SWT juga mengajarkan doa:
“Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.”
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Doa tersebut mengajarkan bahwa keluarga yang menjadi qurrata a’yun atau penyejuk hati bukan sekadar keluarga yang memiliki kecukupan materi. Mereka adalah keluarga yang tumbuh dalam keimanan dan ketakwaan.
Maka, mari kita membangun keluarga bukan hanya dengan harta, tetapi juga dengan iman. Bukan hanya dengan rumah yang nyaman, tetapi juga dengan hati yang tenang. Bukan hanya dengan makanan yang cukup, tetapi dengan makanan yang halal. Bukan hanya dengan pendidikan yang tinggi, tetapi juga dengan akhlak yang mulia.
Mari kita mencari rezeki dengan cara yang halal, bekerja dengan penuh amanah, memberikan nafkah dengan penuh tanggung jawab, serta menghadirkan kasih sayang di tengah keluarga.
Sebab, rezeki yang halal akan menjadi bagian dari keberkahan hidup, sementara keluarga yang dibangun dengan iman dan kasih sayang dapat menjadi jalan bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
Semoga Allah SWT memberikan kepada kita rezeki yang halal dan berkah, pekerjaan yang baik, keluarga yang harmonis, pasangan dan anak-anak yang menjadi penyejuk hati, serta menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang senantiasa berada dalam kebaikan dan ketakwaan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


